“...dan
lagi-lagi, aku rindu akan bibirmu yang merah jambu itu. Cappucinno keparat...”
___
TATAP
Dalam senyum
lengkung yang kuraut, aku menatapmu.
Lekat.
Dalam.
Dalam diam.
Dalam-dalam.
Pikiranku kembali
berkecamu, berputar-putar mencerna setiap memori yang tersangkut.
Tapi tak ada
benang yang kemudian terajut.
Aku melarat .
Aku sekarat!
Dan kau tahu
itu...
Maka aku
mempersilahkan bisu menjejak setiap dinding tembok kamarmu, dengan mata kita
yang tetap beradu padu.
Hingga aku
berusaha memberitahumu dalam diam., bahwa aku ingin selalu hidup.
Dalam dirimu...
[Ai]
[Ai]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar