Minggu, 06 Maret 2016

Puisi Merindukan Hujan


Rintik Rindu (2R)

Kusapa terangnya Oktober juga udara yang kering
Kurasakan angin kemarau perlahan mengaung
Semilir mengapit rindu pada awan hitam mengambang
Mengeja bait semesta yang kian meradang

Surga goa yang beraroma kopi
Menyapa bait semesta yang hitam klimis
Bak rambut surga mengintip di balik cendela kedai
Mengayun riuh denting cangkir kopi dan angan rintik gerimis

Denting rindu bergemah diseluas semesta
Saat pucuk ranting melambai merana
Rintik kehidupan enggan peka
Singgah pada bola fana

Angin mencumbu sepucuk daun randu
Terlintas angan awan hitam mengetuk atap dengan merdu
Dunia bersenandung riuh oleh tangis membuat candu
Namun, pusaran angin kemarau enggan berlalu

Burung camar menuju sarang
Angin tenggara melantunkan rindu bak kapal perang
Ingatan gaduh melayang
Menanti derai sumber kehidupan di pelataran Ujung Pandang

Sembari kunikmati sepotong senja dan matahari tua
Melahirkan kilau jingga
Tempatku menitipkan secangkir rindu
Teruntuk rintik sederhanaku. [Ai]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar