Keterampilan Menulis dalam
Pembelajaran Sastra
Menulis Teks Drama
Dosen Pengampu:
Iib Marzuqi, M.Pd.
Oleh:
1.
Afifah Laili Rohmah (14320003)
2.
Agustin Nikmatus Sholihah (14320006)
3.
Ahmad Jaya Afandi (14320007)
4.
Aida Udlhiyah Naning Laily (14320009)
JURUSAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
ISLAM DARUL ULUM LAMONGAN
2015
A. Menulis Teks Drama
Teks drama sering disebut juga dengan istilah naskah drama. Sebelum
penulis menulis teks drama, perlu dipahami struktur yang membangun naskah drama
tersebut. Struktur naskah drama tersebut adalah sebagai berikut.
a. Plot/Alur
Plot atau alur jalinan
cerita atau kerangka cerita dari awal hingga akhir yang merupakan jalinan
konflik antara dua tokoh atau lebih yang saling berlawanan.
b. Penokohan dan Perwatakan
Penokohan erat hubungannya dengan
perwatakan. Penokohan merupakan susunan tokoh-tokoh yang berperan di setiap
aadegan dalam teks/naskah drama.
c. Dialog (Percakapan)
Ciri khas naskah drama
adalah naskah itu berbentuk percakapan atau dialog. Dialog adalah naskah drama
menggunakan ragam bahasa yang komunikatif sebagai tiruan bahasa sehari-hari
bukan ragam bahasa tulis.
d. Setting (Tempat, Waktu, dan Suasana)
Setting (latar
cerita) adalah penggambaran waktu, tempat, dan suasana terjadinya sebuah
cerita.
e. Tema (Dasar Cerita)
Tema merupakan gagasan
pokok yang mendasari sebuah cerita dalam drama. Tema dikembangkan melalui alur
dramatik dalam plot melalui tokoh-tokoh antagonis dan protagonis dengan
perwatakan yang berlawanan sehingga memungkinkan munculnya konflik di antara
keduannya.
f. Amanat atau Pesan Pengarang
Sadar atau tidak
pengarang naskah drama pasti menyampaikan sebuah pesan tertentu dalam karyanya.
Pesan itu dapat tersirat dan tersurat. Pembaca yang jeli akan mampu mencari
pesan yang terkandung dalam naskah drama. Pesan dapat disampaikan melalui
percakapan antartokoh atau pelaku setiap tokoh.
g. Petunjuk Teknis/Teks Samping
Dalam naskah drama
diperlukan petunjuk teknis atau teks samping yang sangat diperlukan apabila
naskah drama itu akan dipentaskan. Petunjuk samping itu berguna untuk petunjuk
teknis tokoh, waktu, suasana, pentas, suara, musik, keluar masuk tokoh, keras
lemahnyadialog, warna suara, dan sebagainya.
Struktur naskah drama sebagian besar
sama dengan struktur pembangun pada prosa. Hal ini berarti penulisan naskah
drama tidak jauh berbeda dengan penulisan cerpen atau novel. Perbedaannya, pada
penulisan naskah drama seluruh rangkaian cerita disusun dalam bentuk dialog
atau percakapan antartokoh yang disertai dengan keterangan tindak lakuan (teks
samping) yang dikerjakan oleh para tokoh (biasanya diletakkan di dalam kurung),
sedangkan pada cerpen atau novel tidak. Kesamaan struktur naskah drama dengan
prosa dapat diaplikasikan pada penulisan teks drama oleh para penulis pemula.
Untuk memperjelas
perbedaan struktur prosa dan teks drama, bandingkan teks drama dengan cerpen
pada subbab terdahulu.
B. Contoh Teks
Drama
10
NOVEMBER
Karya:
Iib Marzuqi
a. Pemain
1. Bu Puji (sebagai ibu guru)
2. Andi (sebagai ketua kelas)
3. Alex (sebagai murid 1)
4. Amel (sebagai murid 2)
5. Muji (sebagai murid 3)
6. Via (sebagai murid 4)
b. Alur Drama
(Lampu menyala pelan. Para siswa mengambil posisi di depan panggung
dengan saling berpasang-pasangan, kecuali siswa Andi)
Andi :
He...teman-teman kumpul! Hai teman-teman, Alex, Amel, Via, Muki, ayo
kumpul! (berlari-lari panik).
Alex : Ada masalah
apa, Bapak ketua? Ganggu orang saja. (agak meledek, kesal)
Andi : Maaf teman-teman,
ada hal yang lebih penting.
Amel :Maksudmu?
Andi : Ingat ngak,
ini tanggal berpa, bulan apa? (para siswa saling memandang)
Muji : Tanggal 10
Noevember, bulan November, memangnya ada masalah apa?
Alex :Oh iya, ini
‘kan Hari Pahlawan!
Via : Lalu?
Andi : Minggu
lalukan ada tugas dari Bu Puji, pada Hari Pahlawan kita diwajibkan
menyanyikan lagu nasional, sebagai bukti rasa terimakasih kita
kepada para pahlawan.
Amel : Oh ya, aku
lupa belum latihan!
Via :Bagaimana kalau kita latihan bersama-sama?
Siswa : Ayo.....!
(serempak)
(Seluruh pemain setuju. Panggung menjadi gelap sejenak. Lampu
panggung menyala kembali ketika Bu Puji masuk ke panggung dengan memukul-mukul
sesuatu sebagai tanda bel masuk)
Bu Puji :
(teng...teng...teng...) Masuk, masuk, masuk! (para siswa berlari dari arah
yang berbeda) Selamat pagi anak-anak!
Murid : Selamat pagi
Bu Puji.
Bu Puji : Anak-anak, ayo
ambil posisi! Kalian mulai menyanyikan lagu nasional. Andi
sebagai dirijennya! (semua siswa mengambil posisi masing-masing)
Lagu pertama adalah Garuda Pancasila!
Andi : Dengan
hitungan satu sampai tiga lagu dimulai!’Tu, dua!
Murid : Garuda
pancasila, rupa-rupa warnanya, hijau kuning kelabu merah mudah
dan....
Bu Puji : Berhenti-berhenti!
Kalian ngawur. Ulangi lagi! (keras)
Andi : ‘Tu...dua...
Murid : Garuda
pancasila, rupa-rupa warnannya.
Bu Puji : Berhenti!
Bagaimana sih kalian? Hafal tidak?
Murid : Tidak, Bu...
(jawab serentak)
Bu Puji : Baik, kalau
begitu ganti lagu kedua, Ibu Kita Kartini.
Andi : ‘Tu...dua...!
Murid : Ibu kita
kartini, putri sejati, putri Indonesia, Nadin namanya.
Bu Puji : Stop!
Berhenti! (dengan molotot, mengelilingi siswa) Bagaimana sih? Kalian
penerus bangsa yang payah. Hanya lagu nasional saja, kalian tidak
hafal. Lalu, apa makna perjuangan bagi kalian?
Andi : Kalau dulu
perjuangan itu dengan perang, Bu. Tapi kalau sekarang, kata
bapak, perjuangan itu untuk lari dari kejaran polisi, itu karena
bapak saya mantan tukang copet.
Murid : Huuu.... (serentak)
Bu Puji : Diam kamu!
Tambah ngawur saja! Baik., kalau begitu lagu apa yang kalian
hafal?
Murid : SMS, Buuu....
(jawab serentak)
(Lampu padam. Para pemain mengucapkan terimakasih)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar